Mengenal Virus Corona : Gejala yang Timbul dan Jenis Alat Tes yang Digunakan

cek virus corona

Pemerintah melakukan segala daya dan upayanya untuk menekan penyebaran virus corona, mulai dari menghadirkan alat untuk cek virus corona, mengeluarkan himbauan hingga membuat aturan dengan sanksi tegas. Masyarakat pun diminta untuk menaati himbauan pemerintah dengan penuh kesadaran.

Edukasi kepada masyarakat pun terus dilakukan agar tidak ada berita palsu atau hoax yang bisa menimbulkan kepanikan. Begitu juga dengan informasi terkait gejala covid-19 yang perlu diketahui oleh masyarakat.

Gejala Virus Corona

Penyakit Covid-19 bisa dikenali dari gejala yang timbul. Masa inkubasi virus berlangsung selama 14 hari. Jika antibodi yang dikeluarkan oleh tubuh mampu melawan infeksi virus, pasien akan kembali pulih setelahnya. Nah, bagaimana gejala Covid-19?

Gejala virus corona hampir mirip dengan gejala masuk angin dan demam berdarah. Gejala yang muncul pada tiap-tiap orang juga tidak selalu sama. Ada yang menunjukkan gejala berat, ada yang ringan, ada juga yang tanpa gejala. Secara umum, berikut ini gejala yang muncul pada pasien positif Covid-19:
  1. Demam lebih dari 37 derajat Celcius
  2. Batuk kering
  3. Sakit tenggorokan
  4. Hidung beringus
  5. Sakit kepala

Jenis Tes Virus Corona

Seseorang yang pernah kontak langsung dengan pasien positif corona memiliki risiko tinggi untuk tertular. Untuk mengetahui apakah seseorang positif Covid-19 atau tidak, pemerintah Indonesia menyediakan 3 cara untuk cek virus corona, yaitu :

1. Rapid test

Rapid test merupakan tes cepat untuk mendeteksi corona menggunakan sampel darah pasien. Tes ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk ketika tubuh mengalami infeksi. Jika tes positif, berarti tubuh mengeluarkan antibodi. Untuk memastikan itu infeksi corona atau bukan, harus dikonfirmasi melalui PCR.

2. PCR

Polymerase Chain Reaction merupakan alat tes untuk mendeteksi virus corona dengan menggunakan sampel lendir yang ada di hidung atau tenggorokan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat melihat hasilnya. Meskipun begitu, tes ini yang dinilai paling terpercaya.

3. TCM

TCM atau Tes Cepat Molekuler merupakan tes yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit tuberkulosis. Pemerintah Indonesia memanfaat alat TCM yang sudah tersebar di seluruh Indonesia untuk digunakan sebagai tes virus corona. Pasien akan diambil sampel dahaknya. Dengan menggunakan cartridge khusus, virus corona diidentifikasi pada RNA-nya. Hasilnya akan keluar kurang lebih dua jam setelahnya.

Dengan ketiga jenis tes untuk cek virus corona tersebut, infeksi virus corona pada seseorang bisa diketahui. Selain melakukan tes melalui tiga alat yang sudah disediakan oleh pemerintah, Anda juga bisa melakukan cek risiko tertular virus corona secara mandiri. Bagaimana caranya?

Tes risiko tertular virus corona ini diselenggarakan oleh Halodoc. Tujuannya adalah sebagai skrining awal untuk mendeteksi penyebaran Covid-19 di masyarakat. Tes ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang perlu Anda jawab. Setelah menjawab semua pertanyaan, Anda bisa langsung melihat hasilnya, apakah Anda termasuk orang berisiko tinggi atau tidak. Hasil tes ini juga akan merekomendasikan langkah selanjutnya yang sebaiknya Anda ambil.

Halodoc menyelenggarakan tes ini secara online sehingga siapapun yang memiliki gawai dan akses internet bisa melakukan tes ini. Juga, Anda bisa melakukannya di rumah saja tanpa harus ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya. Mudah sekali, kan?

Jangan lupa untuk selalu berada di rumah saja. Jika harus keluar rumah dan berada di tempat umum, selalu laksanakan himbauan physical distancing, cuci tangan pakai sabun setelah menyentuh sesuatu, dan memakai masker kain. Semua ini dilakukan demi menekan penyebaran virus corona sehingga bisa segera mengakhiri pandemi ini.

Ini Pentingnya Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi kesehatan keluarga premi murah merupakan salah satu proteksi yang bisa Anda rencanakan untuk masa mendatang. Namun pernahkah Anda mengetahui asuransi penyakit kritis?

Pengertian Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi penyakit kritis merupakan produk asuransi dengan proteksi berbentuk uang tunai atau lump sum bagi pasien penderita penyakit kritis. Menurut sejarahnya, asuransi penyakit kritis diperkenalkan pertama kali di Afrika Selatan tahun 1983 oleh Marius Marnard. Lalu produk asuransi tersebut diaplikasikan serta diterima banyak negara, salah satunya Indonesia.

Produk asuransi ini menawarkan perlindungan finansial pada penyakit-penyakit berat, seperti tumor, jantung, ginjal, kanker dan jenis penyakit kritis lainnya yang biasanya tercantum dalam polis asuransi.

Lalu, Pentingkah Menambahkan Asuransi Penyakit Kritis Pada Asuransi Dasar?
Anda mungkin bertanya, apakah asuransi penyakit kritis harus ditambahkan ke dalam asuransi dasar? Ini dia pertimbangannya :

  • Apabila suatu saat nanti Anda memiliki kondisi penyakit kritis, adakah biayanya? Terlebih lagi, dengan meningkatnya biaya kesehatan setiap tahunnya. Hal ini tentu harus Anda pertimbangkan matang-matang.
  • Beberapa produk asuransi penyakit kritis biasanya ada yang tidak hanya menanggung pihak pemegang polis. Apalagi jika tertanggung merupakan kepala keluarga, biasanya ada produk asuransi yang menyediakan biaya Pendidikan, pengganti penghasilan dan lain sebagainya. Ini tentu saja bisa meringankan beban Anda dan keluarga.

Itulah beberapa pertimbangan yang harus Anda perhatikan sebelum memilih produk asuransi ini.

Lalu, Apa Saja Yang Tergolong Penyakit Kritis?

Ada beberapa jenis penyakit kritis diantaranya ialah kelainan otak, gangguan kardiovaskular, kanker, serangan jantung, operasi bedah arteri coroner, stroke, angioplasty, asma akut, penyakit kawasaki, epilepsi akut, radang selaput otak, dan lain sebagainya. Biasanya pihak asuransi akan menjelaskan tentang jenis-jenis penyakit kritis yang ditanggung oleh pihak asuransi.

Resiko FInansial Apabila Seseorang Mengalami Penyakit Kritis

Ada dua jenis resiko finansial pada seseorang yang mengalami penyakit kritis, seperti biaya pengobatannya yang mahal dan kehilangan penghasilan.

  • Resiko Kehilangan Penghasilan

Sebagai manusia, tentu kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa mendatang. Jika seorang manajer perusahaan misalnya mengalami penyakit kronis atau kritis di masa sekarang, maka bukan tidak mungkin pihak perusahaan akan memutuskan pensiun dini. Saat seseorang telah dipensiunkan dini, ada beberapa resiko pengeluaran yang tidak sedikit, seperti kehilangan penghasilan, melunasi beberapa pinjaman KTA dan di kantor, serta bisa saja kehilangan fasilitas asuransi dari kantor. Maka dari itu, tiap karyawan wajib mempunyai asuransi penyakit kritis.

  • Resiko Mahalnya Biaya Pengobatan

Tidak hanya resiko kehilangan penghasilan, asuransi penyakit kritis untuk karyawan juga berguna untuk membayar biaya pengobatan. Anda bisa perhatikan batasan biaya pengobatan yang ditawarkan asuransi kantor. Saat seseorang sakit kritis, tidak menutup kemungkinan biaya pengobatannya akan lebih besar.

Dengan penjelasan pentingnya asuransi penyakit kritis di atas, kini saatnya Anda memikirkan produk asuransi penyakit kritis sebelum terlambat.
 

Miftah Jazan Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger